
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 November 2014
Selasa, 04 November 2014
Hadapi Senjata Radio-Elektronik Rusia, Kapal Perusak AS Kabur
![]() |
| Industri pertahanan Rusia memproduksi berbagai jenis peralatan yang bisa mengejutkan musuh ketika berhadapan dengan Rusia. (Foto: Grigoriy Sisoev/RIA Novosti) |
Departemen Luar Negeri AS mengakui bahwa kru kapal perusak Amerika
Donald Cook gentar ketika berhadapan dengan pesawat pembom Rusia SU-24,
meski pesawat tersebut hanya sebuah kompleks persenjataan
radio-elektronik yang tidak membawa bom ataupun misil. Apa yang membuat
kru Amerika begitu ketakutan?
Pada Kamis (10/4), kapal perusak Amerika Donald
Cook memasuki perairan Laut Hitam. Dua hari kemudian, pesawat pembom
taktis Rusia Su-24 “membekukan” kapal perusak itu. Beberapa media
melaporkan bahwa kru Donald Cook gentar saat bertemu dengan pesawat
tersebut dan 27 pelaut Amerika mengajukan permohonan pengunduran diri
dari Angkatan Laut.
Donald Cook adalah kapal perusak armada generasi ke-4
milik Angkatan Laut AS. Senjata kunci Donald Cook berupa rudal jelajah
Tomahawk yang memiliki jangkauan terbang hingga 2.500 kilometer dengan
membawa bahan ledak nuklir. Kapal ini membawa 56 rudal Tomahawk dalam
mode standar, dan 96 rudal untuk mode menyerang.
Kapal perusak ini dilengkapi dengan sistem pertahanan
militer rudal balistik Aegis terbaru. Kapal ini dapat memusatkan sistem
pertahanan udara dari semua kapal yang terpasang dalam jaringan yang
sama dengannya, sehingga kapal dapat melakukan pelacakan dan menembak
ratusan target pada saat bersamaan. Empat radar besar udara standar
dipasang di sisi-sisi kapal di atas dek menggantikan radar biasa.
Sekitar 50 rudal pencegat dari berbagai kelas dipasang bersama Tomahawk
dalam instalasi peluncuran universal pada bagian haluan dan buritan.
Sementara, pembom taktis Rusia SU-24 yang mendekati
Donald Cook tidak membawa bom ataupun rudal, hanya sebuah wadah berisi
kompleks militer radio-elektronik Khibiny. Setelah mendekati kapal
perusak itu, Khibiny mematikan radar, sirkuit kendali tempur, dan sistem
pertukaran datanya. Dengan kata lain, Su-24 mematikan seluruh Aegis
seperti mematikan TV dengan remote control.
Setelah itu, SU-24 melakukan simulasi serangan rudal pada kapal yang
tidak dapat melihat dan mendengar serangan itu, dan mengulangi manuver
tersebut sebanyak 12 kali.
Ketika pesawat tempur pergi, Donald Cook segera
bergerak menuju pelabuhan Rumania dan tidak pernah mendekati perairan
Rusia lagi.
Senjata Tak Terlihat
Rusia memang unggul dalam peralatan perang
radio-elektronik. Vladimir Balybin, Kepala Pusat Penelitian Pertempuran
Radio-Elektronik dan Efisiensi Persembunyian menyatakan semakin rumit
sistem radio-elektronik, semakin mudah mengganggu operasinya dengan
peralatan perang radio-elektronik. “Untuk memenangkan perang di zaman
sekarang, tidak cukup hanya mendominasi di udara. Kita perlu unggul
dalam hal informasi,” ujar Balybin.
Selain Khibiny, industri pertahanan Rusia juga memiliki
berbagai peralatan perang radio-elektronik yang dapat mengejutkan musuh,
kriminal, bahkan teroris. Pasukan udara Rusia
dilengkapi dengan kompleks Infauna. Kompleks-kompleks ini dipasang pada
kendaraan lapis baja atau kendaraan militer lain dan dapat mencari dan
mengganggu koneksi radio musuh dalam frekuensi gelombang pendek maupun
gelombang ultrapendek, dan “mematikan” bom darat yang dikendalikan dari
jarak jauh. Bom-bom ini tetap akan meledak, tetapi setelah pasukan Rusia
lewat dan cukup jauh sehingga aman.
Infauna memiliki fungsi lain. Sensor optik yang
terpasang di kedua sisi kendaraan dapat mendeteksi tembakan dan
mengaktifkan pengeluaran tabir asap untuk melindungi barisan dari
tembakan.
Ada pula perangkat Lesochek yang memiliki fungsi sama
seperti Infauna, tapi berbentuk portabel dan dapat masuk ke dalam
ransel atau koper. Alat ini berguna dalam perbincangan penting untuk
perlindungan terhadap sistem pencegat layanan keamanan yang paling
canggih.
Kompleks Borisoglebsk-2 adalah inti peralatan perang
radio-elektronik dari unit taktis tentara Rusia. Kompleks ini terdiri
dari sebuah titik komando otomatis dan empat jenis stasiun pengganggu.
Peralatan ini menggunakan satu algoritma untuk mengidentifikasi sumber
aktivitas musuh di udara.
Perangkat Zhitel mencari dan memblokir satelit dan telepon seluler, dan kompleks langganan navigasi GPS. Alat ini terbukti efisien selama konflik di Ossetia Selatan dengan membuat pesawat tanpa awak milik Georgia tersesat.
Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin
menunjukkan bahwa pembekalan ulang senjata nuklir strategis Rusia dengan
peralatan REW mutakhir telah digalakkan. Sementara, secara keseluruhan
70 persen pasukan dan armada akan dibekali ulang pada 2020, dan REW
pasukan strategis akan diperbaiki 100 persen.
“Peralatan REW memperkuat persenjataan cerdas kita dan melumpuhkan senjata musuh. Memang begitulah seharusnya,” ujar Rogozin
sumber ;
RBTH Indonesia
Minggu, 02 November 2014
Mengintip Latihan Militer Amphibi
Baru - baru ini di Angkatan Laut Rusia mengadakan latihan pendaratan amphibi yang di lakukan di Primorye suatu tempat di pantai pasifik, latihan yang melibatkan berbagai unsur persenjataan ini rumornya sebagai respon atas semakin "mendekatnya" tentara china yang bergerak lebih dekat ke perbatasan, berikut ulasan foto - fotonya (sey)
Rabu, 22 Oktober 2014
Armada Rusia Segera Miliki Rudal Jelajah Baru
![]() |
| P-800 Onyx dikenal sebagai Yakhont di pasar ekspor. Foto: TASS |
Rudal jelajah yang karakteristik teknisnya masih dirahasiakan baru saja
melewati tahap uji negara dan akan segera digunakan oleh armada angkatan
bersenjata Rusia. Para ahli militer berpendapat hal tersebut mungkin
merupakan inovasi roket terbaru dari para perancang Rusia, atau bisa
pula hasil modifikasi produk berdasarkan roket yang sudah digunakan
sebelumnya seperti Yakhont
Pada September lalu, rudal
jelajah terbaru yang dikembangkan oleh NPO Mashinostroyenia, bagian
dari Perusahaan Rudal Taktis, telah selesai melewati tahap uji negara.
Menurut Direktur Umum NPO Mashinostroyenia Alexander Leonov, rudal baru tersebut dirancang untuk Angkatan Laut Rusia.
Bersama selesainya pengujian negara terhadap roket tersebut, dua
perangkat rudal darat dan laut juga telah selesai melewati tahap uji
negara. Namun, hingga saat ini belum diketahui nama, indeks, ataupun
karakteristik taktis dan teknis dari ‘produk’ baru tersebut.
Pemimpin Redaksi Military Russia
Dmitry Kornev menilai, meski dengan segala kerahasiaan yang
mengiringinya, karakteristik ‘produk’ tersebut sudah bisa diterka.
“Mungkin ini adalah rudal yang benar-benar baru, misalnya rudal
hipersonik. Kita tak boleh lupa bahwa NPO Mashinostroyenia telah
mengembangkan bidang tersebut dan belum lama ini maket roket
hipersonik Brahmos 2 hasil kerja sama Rusia dan India ditampilkan dalam
berbagai pameran,” ujar Kornev pada RBTH.
Selain itu, Kornev juga menduga bisa jadi rudal
tersebut merupakan pemutakhiran rudal yang telah ada. Jika demikian,
kemungkinan besar rudal tersebut dilengkapi dengan sistem kontrol baru
yang lebih akurat yang dibuat menggunakan komponen dan perhitungan
algoritma modern. “Mungkin juga peralatan kendali tersebut sudah
diganti,” kata Kornev.
Kornev berpendapat jika ‘produk’ tersebut merupakan
pengembangan dari rudal lama, kemungkinan besar itu merupakan
pengembangan P-800 Onyx yang dikenal sebagai Yakhont di pasar ekspor.
Yakhont merupakan rudal supersonik paling terkenal yang diproduksi NPO
dan didistribusikan di pasar dunia. Sistem rudal supersonik Brahmos
hasil kerjasama Rusia dan India serta sistem rudal
pesisir Bastion diciptakan berdasarkan rudal tersebut.
Dmitry Boltenkov, ahli militer independen dan salah satu penulis buku Russia's New Army,
menjelaskan bahwa saat ini Angkatan Laut Rusia sedang mengembangkan
konsep operasi ‘pasukan diversifikasi’, yakni ketika armada didukung
bukan saja oleh pasukan udara tetapi juga oleh kelompok pasukan darat.
Sistem rudal berbasis darat dan laut memainkan peran penting dalam
aktivitas ‘pasukan diversifikasi’. Sistem tersebut tidak saja mampu
mengenai kapal musuh dengan tembakan yang akurat, tapi juga bisa
menghancurkan target di darat.
Boltenkov berpendapat, penempatan sistem rudal
universal untuk digunakan oleh militer akan secara signifikan
meningkatkan kekuatan Angkatan Laut Rusia. Pada saat yang sama, kedua
ahli tersebut sepakat meski fakta mengenai produk baru ini masih
rahasia, roket baru tersebut tentu memiliki potensi ekspor.
Beberapa negara, terutama Vietnam dan Indonesia,
telah membeli sistem rudal Rusia, baik yang berbasis laut maupun darat
dengan rudal Yakhont. Rudal Yakhont Vietnam yang dipasok sebagai bagian
dari sistem rudal pesisir Bastion, menurut beberapa laporan, dapat
mengenai target yang berada di laut maupun darat.
Seperti yang dijelaskan oleh Boltenkov, sistem rudal
pesisir Rusia Sopka (Gunung Berapi) dan Rubezh (Garis Batas) dipasok ke
lebih dari sepuluh negara di seluruh dunia, dan bahkan beberapa kali
digunakan dalam konflik militer seperti dalam konflik Arab dan Israel.
sumber;
RBTH Indonesia
Sabtu, 11 Oktober 2014
Yak-152, Pesawat Latihan Militer Sekaligus Strom Trooper
![]() |
| Pabrik pesawat Irkutsk akan meluncurkan dua sampel pesawat latihan ringan Yak 152. (Foto: Sergei Mamontov/RIA Novosti) |
Angkatan Udara Rusia tak lama lagi memiliki pesawat latihan militer
baru, Yak-152, ‘saudara muda’ Yak-130 yang lebih kompleks dan mahal.
Meski karakteristik penerbangan dan teknis pesawat ini belum diumumkan,
para ahli percaya bahwa senjata baru tersebut akan menarik minat negara
asing.
Terbang Seperti Pancake
Pada 2015, pabrik pesawat Irkutsk akan meluncurkan
dua sampel pesawat latihan ringan Yak-152. Pesawat ini dikembangkan oleh
Biro Desain Yakovlev yang merupakan bagian dari perusahaan Irkut dan
dikenal ahli dalam bidangnya. Pesawat latihan baru ini dibuat untuk
membantu persiapan pilot utama. "Meja terbang" ini akan diuji pada 2016,
setelah itu akan diproduksi secara massal.
Untuk latihan pertama, Yak-152 akan diterbangkan oleh penerbang profesional dari akademi angkatan udara.
"Di tahun-tahun pertama latihan, siswa akan belajar terbang bersama
instruktur. Mereka akan belajar cara mengeksekusi penerbangan sederhana
yang disebut 'penerbangan pancake’ dan cara melakukan pendaratan," kata
juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia pada RBTH. "Latihan ini akan menunjukkan apakah siswa mampu untuk terus terbang."
Menurut sang juru bicara, Yak-152 akan membantu calon
pilot melakukan manuver tingkat tinggi dan mendapatkan pengalaman
terbang malam serta terbang dalam kondisi meteorologis yang sulit. Itu
sebabnya pesawat latihan baru ini akan dilengkapi dengan peralatan
navigasi mutakhir serta sistem penyelamatan darurat CKC-94M.
Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan, orang yang akan
berlatih menggunakan Yak-152 bukan hanya calon pilot pesawat tempur dan
pesawat tempur pengebom, tapi juga komandan serta kopilot yang
menerbangkan pesawat pengebom, pesawat angkutan militer, dan helikopter.
"Setelah mendapat keterampilan dasar menerbangkan Yak 152, para siswa
akan melanjutkan latihan menggukanan pesawat latihan khusus," jelas juru
bicara Kementerian Pertahanan. "Misalnya, siswa yang ingin menerbangkan
Su-35, T-50, atau pesawat tempur pengebom Su-34 pertama-tama akan
berlatih dengan Yak-130.
Pilot yang menerbangkan bomber Tu-22M dan Tu-160 awalnya akan mengasah
keterampilan dengan pesawat penumpang modifikasi khusus Tu-134UBL,"
terangnya.
![]() |
Yak-152 (foto;engineeringrussia.wordpress.com)
|
Permintaan Tinggi
Saat ini, sektor pesawat latihan ringan tengah aktif
berkembang. Terdapat banyak pesaing, seperti Tukano dan Super Tukano
Brazil, serta PC-7 dan PC-9 Swiss yang diproduksi oleh perusahaan
Pilatus. Selain itu, banyak pula perusahaan produsen pesawat yang
mengembangkan dan memproduksi pesawat latihan ringan, seperti Aermacchi
dari Italia yang dulu memasok M-290 ke Finlandia dan Meksiko.
Sementara
Orlik dari Polandia tidak mampu mendapatkan klien, kecuali angkatan
udara nasional mereka sendiri. Hal yang cukup mencengangkan ialah pada
awal 2000-an Beechcraft dari AS membeli lisensi para produsen Swiss
untuk membangun PC-9 sendiri. Pesawat itu kemudian diganti nama menjadi
T-6B Texan-2 dan kini digunakan untuk melatih pilot, tidak hanya di
Angkatan Udara dan Laut AS, tetapi juga di Kanada, Israel, Jerman, dan
bahkan Selandia Baru.
Sementara itu, banyak negara yang menggunakan pesawat latihan ringan digunakan sebagai storm trooper,
khususnya Angkatan Udara Kolombia yang sering menggunakan Super Tukano
untuk menyerang markas-markas organisasi narkotika dan pemberontak
dengan efektif. "Sekarang, sebagaimana kita lihat, dengan adanya targeting pod
dan berbagai peralatan dalam pesawat untuk menjatuhkan bom kendali
satelit seperti JDAM Amerika, pesawat latihan menjadi alternatif yang
tidak mahal bagi pesawat serbu.
Mereka mampu mengenai sasaran tanpa
menghadapi ancaman dari sistem antipesawat," kata Anton Lavrov, ahli
militer independen dan salah satu penulis buku The New Russian Army.
"Kebanyakan pemberontak hanya dapat mempertahankan diri saat diserang
dari udara menggunakan MANPADS (sistem pertahanan udara yang mudah
diangkut manusia) dan senjata api."
Saat ini, para pembangun pesawat Irkutsk sedang menerima dokumentasi teknis untuk pesawat baru tersebut. Jika semua berjalan sesuai rencana, pada akhir tahun ini Irkutsk akan menyelesaikan produksi elemen konstruksi pertama serta komponen-komponen dan perakitan pesawat latihan baru ini.
sumber ; RBTH Indonesia
Rabu, 08 Oktober 2014
Indonesia Rasa Rusia
Tanggal 8 Oktober 2014, bertempat di Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya, di pajang beberapa arsenal tempur TNI dalam rangka hari ulang tahun TNI, dan seperti yang sudah diketahui bahwa Indonesia mengakuisisi beberapa persenjataan buatan rusia, seperti Rudal Yakhont, Ranpur BMP-3F, BVP-2 versi BMP 2 buatan Ceko, Helikopter Hind-35P dan Mi-17.
![]() |
| Rudal Yakhont (Foto;russiaarms.blogspot.com) |
![]() |
| BVP-2 versi dari BMP-2 buatan Ceko (Foto;russiaarms.blogspot.com) |
![]() |
| 9M113 Konkurs / Rudal anti tank AT-5 (Foto; russiaarms.blogspot.com) |
![]() |
| BMP-3F (Foto; russiaarms.blogspot.com) |
![]() |
| Mi-17 (Foto; russiaarms.blogspot.com) |
![]() |
| Mi-35P (Foto; russiaarms.blogspot.com) |
Foto; russiaarms.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)


















































